Kecap “Udang” Purwodadi Pertahankan Rasa

Sudah sejak lama kecap merek Udang menjadi salah satu produk andalan Kabupaten Grobogan. Produk itu menjadi produk khas yang turut ”memoncerkan” Kota Purwodadi. Seperti halnya produk lainnya, masyarakat dan pemerintah daerah berupaya terus mempromosikan serta berusaha mempertahankan kualitasnya.

Di sebagian besar toko oleh-oleh khas Purwodadi di kawasan Jalan A Yani atau sebelah timur Pasar Induk Purwodadi, pasti dijumpai kecap cap Udang. Selain diakui karena rasanya yang gurih, lezat, berprotein tinggi, harganya pun terjangkau. Swikee khas Purwodadi pun menggunakan kecap Udang dalam proses memasaknya.

”Kalau lewat Purwodadi saya pasti membeli kecap cap Udang. Rasanya enak. Barang ini sudah ada sejak saya kecil dulu, ketika sering diajak orang tua ke sini. Rasa, bentuk, dan kemasannya pun tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu” kata Erlina Septiyani (26), warga Blora yang tinggal di Semarang saat singgah di salah satu toko oleh-oleh di Purwodadi.

Bagi warga Grobogan, kecap cap Udang sudah tidak asing lagi. Pasalnya kecap yang pertama kali dibuat oleh keluarga Kustinah Raharjo (Oei Hok Hoo) warga Jalan Siswa Purwodadi itu, sudah dikenal sejak tahun 1955. Kecap ini merupakan kelanjutan dari kecap generasi sebelumnya, yang muncul sekitar tahun 1930 dengan merek Potret.

”Masyarakat Purwodadi sebelumnya memang mengenal kecap buatan keluarga saya dengan cap Potret. Namun ayah saya kemudian mengubah merek kecap itu dengan cap Udang, karena terinspirasi merek teh pada masa itu,” kata Eniwati Raharjo (55) putri sulung Ny Oei Hok Hoo yang meneruskan usaha kecap itu.

Dibantu 10 karyawannya, setiap hari diproduksi antara 17-20 krat atau sekitar 500 botol kecap cap Udang. Cara pengolahannya pun sederhana dan manual, serta tetap mempertahankan tradisi leluhur. Meskipun saat ini rata-rata memasak menggunakan gas, namun Eniwati mempertahankan cara memasak menggunakan kayu bakar.

”Rasanya pasti beda kalau menggunakan kompor minyak atau gas. Bahan baku maupun bumbunya pun tidak pernah berubah. Saya sengaja mempertahankan itu demi cita rasa yang gurih, lezat, dan berprotein. Mungkin juga karena sebab itu, pelanggan kecap ini berasal dari berbagai kalangan dan usia,” imbuhnya.

Laporan wartawan Suara Merdeka Dheky Kenedi.